Kapolres Sikka Akan Bawa Pembunuh Tunjukkan Jari dan Rambut Noni yang Belum Ditemukan

Kepala Kepolisian Resort Sikka, AKBP Bambang Supeno, menemui masa aksi damai di teras Polres Sikka, Kamis petang 21 Mei 2026. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE, dewadet.com-Desakan keluarga Stefania Trisanti Noni (14), korban pemerkosaan dan pembunuhan kepada polisi menemukan anggota tubuh yang hilang, pakaian dan handphone direspon Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Sikka, Bambang Supeno. Ia berjanji  membawa ketiga pelaku menunjukan anggota tubuh korban dan barang korban yang belum ditemukan.

“Memang sampai saat ini barang milik korban belum ditemukan. Saya akan komunikasi dengan Kejaksaan, Pengadilan dan Rutan agar bisa membawa tiga pelaku ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk menunjukkan barang yang belum ditemukan,” kata Bambang kepada keluarga korban yang melakukan aksi damai ke Mapolres Sikka, Kamis siang 21 Mei 2026.

Bambang meminta dukungan dan doa dari semua pihak agar kasus pembunuhan Noni bisa terungkap tuntas.

Kepada massa dan keluarga korban yang memenuhi teras Mapolres Sikka, Bambang menyampaikan empati atas kasus yang  menimpa keluarga besar almarhum Noni.

Baca juga:10 Suku Kawal Sidang Pembunuhan Noni di PN Maumere, Harapan Keluarga di Pundak Jaksa

Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Maumere, Pengadilan Negeri Sikka, dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Maumere, agar polisi bisa membawa ketiga pelaku mendatangi tempat kejadian perkara menemukan barang-barang milik korban.

Paskalis,seorang perwakilan massa di hadapan Kapolres mengatakan keluarga percaya kepolisian mampu bekerja profesional menangani kematian Noni secara terang benderang.

“Untuk itu kami minta Polres Sikka bisa menangani kasus ini dengan baik. Kepada tiga pelaku yang ada, tolong buktikan kinerja Polri dengan mengembalikan barang milik korban,” pinta Paskalis.

Pada saat keluarga korban membutuhkan bantuan, lanjut Paskal, polisi seharusnya menjadi pengayom dan pelindung, bukan membiarkan keluarga korban tidak mendapatkan keadilan.

Baca juga:Pembunuhan Pelajar SMP Disidangkan, Ibunda Noni: Rofin, Kamu Tahu Rambut dan Jari Noni, Tolong Kembalikan

“Kalau seandainya kasus ini dialami bapak ibu polisi, bagaimana? Kami orang kecil dan inilah saat polisi harus mengayomi kami,” kata Paskalis.

Sebelumnya dalam dialog di Aula Mapolres Sikka antara perwakilan massa dengan Kapolres meminta polisi menemukan barang pribadi milik korban tidak menemukan solusi. Mereka keluar ruangan membawa kecewa.

Jari Tangan dan Rambut  Noni Dijadikan Tumbal

Kematian Stefania Trisanti Noni (14) memasuki babak baru. Ibunda Noni, Maria Yohana Nona, dan ayahanda Herman  Yoseph mengungkapkan bahwa sebagian rambut dan jari tangan anaknya yang hilang serta ditemukannya kain merah, beras dan uang logam di lokasi penemuan jasad Noni, 20 Februari 2026 diduga dijadikan sebagai tumbal pesugihan.

Baca juga:Remaja Putri SMP MBC Ohe Dipaksa Hubungan Badan, Dibunuh dan Disembunyikan di Kali

“Bagian tubuh anak saya yang hilang dijadikan pesugihan. Tanyakan sama mereka (terdakwa) yang ada di dalam (ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Maumere,” teriak Maria dalam orasi di Teras PN Maumere, Kamis siang 21 Mei 2026.

Ayah Noni, Herman Yosepg menimpali “apa maksud dari itu semua (uang logam, beras dan kain merah)?. Di tempat ditemukan jasad anak saya ada uang logam, kain merah dan beras. Itu apa artinya? tanya kepada mereka (terdakwa atau pelaku),” katanya lagi.

“Penjahat kamu ayomi, penjahat kamu lindungi. Tapi orang baik kamu biarkan,” Herman mengecam putusan 10 tahun untuk anak terdakwa Fransiskus Rofinus Gewar alias SGR yang telah divonis 13 Mei 2026.

Sementara tua adat dari 10 suku di Romanduru, Kecamatan Hewokloang, Gregoris Goris, kepada wartawan mengatakan bahan-bahan ritual adat berupa beras, uang logam, dan kain merah di lokasi penemuan jasad Noni,  digunakan oleh dukun agar kematian Noni tidak bisa diungkap.

Baca juga:Pelajar SMP Ambil Gitar Dipinjam Kerabat, Hilang Empat Hari Ditemukan di Kali Desa Rubit

Baik Maria Yosefian Nona maupun Herman mengecam keras para pelaku maupun aparat kepolisian dan majelis hakim PN Maumere dalam aksi damai didukung 10 suku adat dari Kecamatan Hewokloang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IFTK Ledalero, GMNI Cabang Sikka, dan TRuK-F.

Ayah dan ibu korban ini terus menyampaikan tuntutan kepada Polres Sikka agar menemukan bagian anggota tubuh, jari tangan, rambut, pakaian, dan handphone Noni.

Menurut ayah dan ibu korban, para pelaku tahu dimana lokasi anggota tubuh yang hilang tersebut disembunyikan. Namun poliisi tidak maksimal bekerja maksimal.

Aksi damai di PN Maumere, Kamis siang tadi berlangsung alot. Elemen massa semula minta kepada polisi dan pihak PN Maumere agar palang besi gerbang pintu PN dibuka sehingga mereka bisa masuk melakukan ritual di depan teras gedung dua lantai itu.

Baca juga:Ketua Fraksi MPR RI Temui Orangtua Pelajar Dugaan Pembunuhan di Desa Rubit

Permintaan berulang kali itu terkesan tidak diindahkan. Negosiasi beberapa kali mandek. Gabungan masa sekitar 100-an orang mendorong palang besi sampai bengkok dan terlepas dari pengaitnya. Ratusan orang  merangsek ke dalam halaman kantor.

“Kami tidak masuk dalam ruang kantor. Kami hanya minta di teras gedung saja supaya bisa bikin ritual adat. Kalau tadi dibukakan palang besi tidak rusak,” kata orator dari GMNI Cabang Maumere.

Tua adat Gregorius Goris akhirnya melakukan ritual adat di pinggir teras gedung itu.

Kematian Noni, masih penuh misteri meski terdakwa anak Fransiskus Rofinus Gewar sudah divonis 10 tahun penjara. Noni menghilang hari Jumat sore, 17 Februari 2026. Tiga hari kemudian, remaja putri kelas II SMP MBC Ohe di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur ditemukan meniggal.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan