Ketua Fraksi MPR RI Temui Orangtua Pelajar Dugaan Pembunuhan di Desa Rubit

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mdekeng, menemui ayah dan ibu pelajar SMP MBC Ohe,korban dugaan pemerkosaan dan  pembunuhan, Selasa 3 Maret 2026. (screenshot)

MAUMERE,dewadet.com-Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, mendatangi kediaman ayah dan ibu STN (14) remaja putri korban dugaan pemerkosaan dan pembunuhan di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 3 Maret 2026.

Kehadiran politisi senior Senayan dari daerah pemilihan NTT 1 didampingi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sikka, Gorgonius Nago Bapa untuk menyampaikan dukacita dan dukungan atas proses hukum yang sedang berlangsung oleh penyidik Kepolisian Resort Sikka.

Sebagaimana video yang diberikan Melchias Mekeng kepada wartawan, ayah korban berharap aparat dapat menyelesaikannya dengan seadil-adilnya.

“Kalau ternyata betul (dugaan pemerkosaan dan pembunuhan) mereka dihukum seberat-beratnya. Itu harapan kami,” kata ayah korban.

Baca juga:Pelajar SMP Ambil Gitar Dipinjam Kerabat, Hilang Empat Hari Ditemukan di Kali Desa Rubit

Melky Mekeng, kepada orangtua korban mengatakan bahwa ketika tiba di Maumere, ia menelepon Kapolres Sikka menanyakan penanganan kasus dugaan pemerkosaan dan pembunuhan ini.

Pemeriksaan penyidik Polres Sikka terhadap enam orang menyebutkan  bahwa STN meninggal pada Jumat 20 Februari 2026 sekitar pukul 15.00 Wita.  Pada malam itu, ibu dan tante korban sempat mendatangi rumah pelaku FGR menanyakan keberadaan STN. Namun FGR berdalih, korban sudah kembali ke rumahnya.

Kaur Bin Ops Reskrim Polres Sikka, Iptu I Nyoman Ariasa, dalam konferensi pers Senin 2 Februari 2026 di Mapolres Sikka mengatakan bahwa penyidik telah meminta keterangan Vincentius Sawe, Maria Putriana Bunga, Marieta Betrik, Yafrianus Padak, Maria Maesti, dan Saferius Gewar. Mereka semua menghadiri upacara adat di rumah keluarga Beradus Buko di kmpunf tetangga

Kejadiannya ketika STN, pelajar kelas VIII SMP Ohe datang ke rumah FGR mengambil gitar miliknya yang dipinjam oleh FGR. Saat itu di rumah hanya FGR seorang diri.

Baca juga:FGR Berdalih STN Sudah Kembali ke Rumah, Mengaku Sehari Setelah Habisi Pelajar SMP Ohe

Di dapur, kata Ariasa, FGR membelah buah durian mengunakan parang. Selesai makan durian, dia memaksa korban melakukan hubungan badan. Pelaku minta kejadian tersebut tidak diceritakan kepada orang lain. Sedangkan pelaku menyaksikan korban menelepon seseorang,membangkitkan amarah hingga perkelahian.

“Pelaku menganiaya korban mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujar Ariasa.

Setelah korban meninggal, pelaku menyeret dan menyembunyikan jasad korban di dekat kali. Jasadnya ditutupi dengan daun talas dan dia kembali ke rumah.

Sekitar pukul 22.30 Wita, beberapa orang saksi pulang dari tempat acara adat.

Baca juga:Remaja Putri SMP MBC Ohe Dipaksa Hubungan Badan, Dibunuh dan Disembunyikan di Kali

Ariasa melanjutkan, sekitar pukul 23.30 Wita, ibu dan tanta korban mendatangi rumah FGR menanyakan keberadaan STN. Meski FGR berdalih bahwa STN sudah pulang.

Pada hari Sabtu, 21 Februari 2026 sekitar pukul 14.00 Wita, kakek pelaku dijemput oleh keluarga korban untuk upacara adat. Sekembalinya dari ritual adat,sang kakek meminta FGR supaya terus terang mengakui perbuatannya.

“Pelaku jujur kepada semua (anggota keluarga), bahwa dialah yang menghilangkan nyawa korban,” jelasnya.

Kakek pelaku mengajaknya melihat jenazah korban.Karena takut, sang kakek melarikan diri, sementara pelaku kembali menyeret dan menyembunyikan jenazah korban di tempat lain ditutupi dengan kayu dan daun bambu. Setelah itu, dia kemudian melarikan diri ke Ende. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan