BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janda, Garam dan Pelita yang Terlupakan
Selasa, 09 Juni 2026. Hari Biasa Pekan X. Kitab Pertama Raja-Raja 17:7-16; Matius 5:13-16
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Kita mudah mengagumi hal-hal yang spektakuler. Kita mudah terpesona oleh kekuasaan yang besar, pengaruh yang luas, prestasi yang gemilang, dan angka-angka yang mengesankan. Tidak sedikit orang berpikir bahwa sesuatu dianggap berharga jika terlihat menarik perhatian banyak orang.
Namun, Sabda Tuhan hari ini justru memperlihatkan sebuah realitas yang sangat berbeda. Allah bekerja dan memulai karya-Nya melalui hal-hal kecil yang terabaikan atau terlupakan.
Bacaan pertama menghadirkan seorang tokoh yang tampaknya tidak memiliki arti penting apa pun dalam sejarah. Ia bukan raja, bukan nabi, bukan pemimpin bangsa. Ia hanyalah seorang janda miskin di Sarfat, seorang asing yang hidup di luar wilayah Israel.
Lebih dari itu, ia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit. Tepung tinggal sedikit dan minyak hampir habis. Janda Sarfat bukan tokoh penting. Ia seorang janda asing, miskin, tinggal di daerah kafir, dan hampir mati kelaparan. Namun, justru melalui perempuan sederhana inilah Allah memelihara kehidupan Nabi Elia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pegang Tuhan, Pasti Bahagia
Menarik bahwa Allah tidak mengutus Elia kepada orang kaya, pejabat, atau tokoh berpengaruh. Allah mempercayakan kelangsungan hidup nabi-Nya kepada seorang janda yang nyaris tidak diperhitungkan siapa pun.
Dari kisah ini kita belajar bahwa dalam pandangan Allah, ukuran terpenting tidak terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada dampak atau pengaruh kecil yang diberikan. Sering kali yang dianggap kecil dan terlupakan justru menjadi alat di tangan Allah yang dipakai-Nya untuk melaksanakan karya-karya besar-Nya.
Sabda Yesus dalam Injil hari ini bergerak dalam arah yang sama, dan ada satu hal yang menarik, yaitu bahwa Yesus tidak berkata, “Jadilah garam dunia” atau “Jadilah terang dunia.” Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia.” Yesus tidak memilih gambaran yang megah. Ia tidak berkata, “Kamu adalah istana dunia” atau “Kamu adalah mercusuar dunia.”
Ia memilih garam dan pelita: dua benda sederhana yang hampir tidak diperhatikan. Garam jumlahnya sedikit, tetapi tanpanya makanan kehilangan rasa. Pelita ukurannya kecil, tetapi cukup untuk mengusir gelap dalam sebuah rumah. Garam tetap garam karena rasanya. Terang tetap terang karena cahayanya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ada Tempat Bagimu di Meja-Ku
Artinya, menjadi garam dan terang bukan sekadar tugas tambahan bagi seorang murid, melainkan identitasnya. Jika garam kehilangan rasa dan terang disembunyikan, keduanya kehilangan makna keberadaannya.
Di situlah letak pesan yang sangat mendalam. Kerajaan Allah tidak selalu bertumbuh melalui peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Kerajaan Allah selalu bertumbuh melalui kesetiaan-kesetiaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Seorang ibu yang terus mendoakan keluarganya. Seorang ayah yang bekerja dengan jujur. Seorang guru yang sabar mendidik. Seorang imam yang tetap setia melayani. Seorang anak yang memilih berkata benar meskipun sulit. Semua itu mungkin tampak kecil, tetapi di tangan Tuhan dapat menjadi garam dan terang yang mengubah kehidupan banyak orang.
Saudari dan saudara terkasih, salah satu godaan terbesar zaman sekarang adalah keinginan untuk selalu terlihat besar, terkenal, dan dikagumi. Media sosial sering membuat kita berpikir bahwa nilai hidup ditentukan oleh banyaknya f ollower, comment, atau subscriber yang diberikan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Persembahan dalam Keheningan
Bukan, Allah tidak pertama-tama mencari orang yang hebat dan terkenal. Allah mencari orang yang setia. Garam bukanlah makanan utama, tetapi kehadirannya selalu terasa. Pelita tidak membuat dirinya menjadi pusat perhatian, tetapi membantu orang lain menemukan jalan. Garam dan terang selalu hidup untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Mungkin kita merasa hidup kita biasa-biasa saja dan tidak memiliki pengaruh apa pun. Jangan berkecil hati. Janda Sarfat, segenggam tepung, sedikit minyak, sebutir garam, dan sebuah pelita kecil mengingatkan kita bahwa Allah dapat melakukan hal-hal besar melalui apa yang tampak kecil, yakni diri kita.
Yang diminta Tuhan adalah setia dan berdampak dalam tugas yang dipercayakan kepada kita. Sebab sering kali perubahan terbesar dalam hidup bermula dari kesetiaan-kesetiaan kecil yang dilakukan dengan kasih yang besar.
Petikan BUSA-H untuk kita #09/06/26:
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dibentuk oleh Kebenaran, Diubah oleh Hati Terkudus Yesus
“Allah sering menulis karya-karya besar-Nya dengan huruf-huruf kecil yang diabaikan dan terlupakan untuk dibaca.”
“Tidak semua cahaya menerangi panggung; ada cahaya kecil yang diam-diam menerangi jalan.”
“Hidup yang sederhana dapat menjadi mukjizat bagi orang lain jika dihidupi dengan kesetiaan dan kasih yang sejati.”
“Bukan seberapa terkenal nama kita, melainkan seberapa banyak kebaikan Tuhan dapat mengalir melalui hidup kita.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@





