Sabtu, 04 Juli 2026. Hari Biasa Pekan XIII.Nubuat Amos 9:11-15; Matius 9:14-17.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih. Ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari dalam kehidupan beriman, yakni merasa bahwa karena telah lama percaya kepada Tuhan, kita tidak lagi perlu berubah dan perbaharui.

Padahal, yang membuat iman tetap hidup bukanlah lamanya seseorang beriman, melainkan kesediaan terus diperbarui oleh Allah. Hidup rohani yang berhenti bertumbuh perlahan akan kehilangan sukacita, meskipun tetap dipenuhi berbagai aktivitas keagamaan.

Harapan akan pembaruan itu telah diwartakan oleh Amos. Sesudah masa penghukuman dan kehancuran, Allah tidak menutup kisah umat-Nya dengan keputusasaan. Ia justru berjanji membangun kembali pondok Daud yang telah roboh, memperbaiki yang runtuh, dan memulihkan tanah yang pernah porak-poranda.

Menarik bahwa Allah tidak sekadar mengembalikan keadaan seperti semula, tetapi menghadirkan masa depan yang lebih penuh harapan. Anggur akan berlimpah, tanah akan menghasilkan buah, dan umat akan kembali berakar di tanah yang diberikan Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Luka yang Melahirkan Iman

Inilah wajah Allah yang tidak pernah berhenti membangun kembali kehidupan yang retak. Tidak ada kegagalan yang terlalu besar bagi rahmat-Nya. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang bersedia dibentuk kembali oleh kasih-Nya.

Janji pembaruan itu mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus. Murid-murid Yohanes bertanya, “Kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?”

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan sekadar membahas tentang puasa, melainkan cara memandang relasi dengan Allah. Bagi mereka, iman lebih banyak diukur dari aturan yang dijalankan.

Namun Yesus mengarahkan perhatian kepada Pribadi yang hadir di tengah mereka. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Diampuni Tak Pernah Tetap Lumpuh

Yesus sedang menyatakan bahwa bersama-Nya telah datang masa sukacita dan pembaruan. Relasi dengan Allah bukan pertama-tama beban kewajiban, melainkan perjumpaan yang menghidupkan hati.

Puasa tetap memiliki tempat yang penting, tetapi nilainya terletak pada hati yang semakin dekat dengan Allah, bukan sekadar pada tindakan lahiriahnya.

Pemahaman itu dipertegas melalui perumpamaan kain yang baru dan kantong anggur yang baru. Kain baru tidak dijahit pada baju yang tua, dan anggur yang baru tidak dituangkan ke dalam kantong kulit yang lama.

Yesus tidak sedang menolak tradisi, melainkan mengajak setiap orang membuka diri terhadap karya Allah yang selalu baru. Hati yang dipenuhi kesombongan, kebiasaan lama yang enggan berubah, atau sikap merasa sudah cukup baik akan sulit menerima rahmat yang ingin dicurahkan Tuhan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diusik Demi Diselamatkan

Allah terus menghadirkan anggur yang baru, tetapi hati pun perlu diperbarui agar mampu menampungnya.

Saudari dan saudara terkasih, ada kalanya kita tetap rajin berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi, dan menjalankan berbagai kegiatan Gereja, tetapi hati belum tentu sukacita. Karena ibadah jadi rutinitas, pelayanan berubah menjadi kewajiban, dan kasih kehilangan kehangatannya karena do ut des.

Mungkin yang perlu diperbarui bukan banyaknya kegiatan, melainkan hati yang menjalankannya. Keluarga membutuhkan kasih yang terus diperbarui. Komunitas membutuhkan semangat hidup bersama yang terus disegarkan.

Gereja membutuhkan umat yang tidak hanya setia mempertahankan tradisi, tetapi juga terbuka terhadap cara-cara baru mewartakan Kristus tanpa kehilangan kebenaran Injil.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Badai yang Paling Berbahaya

Marilah kita memohon rahmat agar hati kita menjadi “kantong anggur yang baru”, yang selalu siap menerima karya Roh Kudus. Biarlah Kristus memperbarui cara kita berdoa, melayani, mengampuni, bekerja, dan mengasihi.

Hati yang terus diperbarui akan tetap dipenuhi sukacita, karena selalu menemukan kehadiran Sang Mempelai yang berjalan bersama dalam setiap langkah kehidupan kita.

Petikan BUSA-H untuk kita #04/07/26@

“Iman tidak menjadi tua karena usia, tetapi karena hati yang berhenti diperbarui oleh Tuhan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Batu Karang yang Dibentuk, Bukan Dilahirkan

“Allah selalu menyediakan anggur yang baru; persoalannya, apakah hati kita masih bersedia menjadi kantong yang baru.”

“Sukacita iman lahir bukan dari banyaknya aturan yang dijalankan, melainkan dari kedekatan dengan Kristus yang selalu memperbarui hidup.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan