Selasa, 23 Desember 2025.  Hari Biasa Khusus Adven – (Sore: Novena Natal Hari Kedelapan). Nubuat Maleakhi 3:1-4;4:5-6; Lukas 1:57-66.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mempertemukan nubuat tentang seorang utusan yang mempersiapkan jalan Tuhan dengan kisah kelahiran seorang anak yang namanya membuat orang bertanya-tanya.

Di tengah dunia yang relasinya sering retak karena ego, kata-kata kehilangan bobot, dan hati sering saling menjauh, Allah justru bekerja dengan cara yang senyap, namun menentukan: membalikkan hati manusia dan membuka kembali mulut yang bisu untuk memuji-Nya.

Nabi Maleakhi mewartakan kedatangan seorang utusan yang akan memurnikan dan memulihkan, bahkan disebut sebagai Elia yang datang menjelang hari Tuhan. Tugasnya bukan pertama-tama mengubah struktur luar, melainkan membarui relasi terdalam: hati para bapa dipulihkan kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya.

Ini adalah pertobatan yang konkret dan menyentuh inti hidup. Allah tidak berkenan pada ibadat yang rapi tetapi relasi yang rusak. Pemurnian yang dikehendaki Tuhan bukan kosmetik rohani, melainkan pertobatan relasional yang menghidupkan kembali kasih, tanggung jawab, dan kehadiran satu sama lain.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mangnificat dan Sujud Hana: Jalan Iman Menyambut Natal

Nubuat itu menemukan wujudnya dalam Injil Lukas melalui kelahiran Yohanes Pembaptis. Ketika orang-orang bersikeras memberi nama menurut tradisi dan kepentingan keluarga, Elisabet dan Zakharia memilih taat pada kehendak Allah: “Namanya adalah Yohanes.” Pada saat kehendak Tuhan didahulukan, mulut Zakharia terbuka dan lidahnya terlepas.

Ini bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan tanda rohani: ketika manusia berhenti mengatur Allah dan mulai taat, pujian pun mengalir kembali. Ketakutan berubah menjadi kekaguman, gosip menjadi permenungan, dan hidup sehari-hari menjadi tempat karya Allah.

Pertanyaan yang muncul dari orang-orang Yudea sangat mendalam: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Injil menjawab dengan kalimat kunci: tangan Tuhan menyertai dia. Masa depan Yohanes tidak ditentukan oleh ambisi manusia, melainkan oleh penyertaan Allah. Di sinilah pesan Adven diperdalam bahwa hidup tidak perlu dikendalikan sepenuhnya agar bermakna, tetapi diserahkan agar Allah dapat bekerja.

Sabda hari ini berbicara kuat tentang situasi hidup kita masa kini. Banyak keluarga hidup berjarak meski serumah, banyak orang sibuk berbicara tetapi lupa mendengarkan, banyak ibadat dilakukan tetapi relasi dibiarkan dingin.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mangnificat dan Sujud Hana: Jalan Iman Menyambut Natal

Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “pertobatan sejati selalu menyentuh relasi kita dengan Allah dan sesama.” Maka di sisa masa Adven menjelang Natal ini bukan sekadar menghias ruang, melainkan membiarkan Allah memurnikan hati agar kita kembali hadir bagi satu sama lain.

Saudari dan saudara terkasih, mari kita disiapkan pertama-tama bukan suasana, melainkan sikap batin. Natal disambut dengan hati yang dipulihkan, dengan keberanian berdamai, dengan kesediaan mengampuni, dan dengan kerendahan hati untuk berkata benar seperti Zakharia dan Elisabet.

Ketika kita membiarkan Allah menamai hidup kita, bukan ego dan kebiasaan lama, maka mulut kita akan kembali memuji dan hidup kita akan menjadi kesaksian.

Natal semakin dekat. Jika hati dipulihkan dan relasi diperbarui, Kristus tidak hanya lahir di Betlehem, tetapi juga di dalam rumah, keluarga, dan keseharian kita. Sebab di sanalah tangan Tuhan sedang menyertai dan bekerja.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Berkata ‘Ya’ di Tengah Ketidakpastian

Butiran Sabda Allah hari ini:

”Pertobatan sejati tidak diukur dari seberapa rapi ibadat kita, melainkan dari seberapa sungguh hati kita dipulihkan untuk mengasihi.”

”Natal tidak lahir dari hiruk-pikuk persiapan luar, tetapi dari hati yang rela dinamai ulang oleh Allah.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan