Senin, 01 Juni 2026. Peringatan Wajib St. Yustinus, Martir. Surat Kedua Rasul Petrus 1:1-7; Markus 12:1-12.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI-saudari yang dikasihi Tuhan, ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan, “Pohon yang berbuah lebat justru sering dilempari batu.”

Pepatah ini menggambarkan kenyataan hidup manusia. Tidak semua kebaikan diterima dengan sukacita. Kadang justru orang yang membawa kebenaran, cinta, dan ketulusan harus mengalami penolakan.

Sejarah manusia penuh dengan kisah para nabi, tokoh bijaksana, dan orang-orang baik yang disingkirkan karena mereka membawa terang yang mengusik kegelapan. Namun, di balik semua itu, ada persoalan yang lebih dalam.

Sering kali manusia tidak menolak kebenaran karena tidak mengenalnya, tetapi karena kebenaran itu mengganggu rasa memiliki dan kekuasaan yang telah dibangunnya. Ketika manusia mulai merasa sebagai pemilik mutlak atas hidupnya, ia perlahan menutup telinga terhadap suara Tuhan.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Inti Tritunggal: Bukan Angka, Melainkan Relasi Kasih

Perumpamaan dalam Injil hari ini memperlihatkan kenyataan itu dengan sangat jelas. Seorang pemilik kebun anggur mempersiapkan semuanya dengan baik lalu mempercayakannya kepada para penggarap. Namun, ketika tiba waktunya memberikan hasil kepada pemiliknya, para penggarap justru memukul, menghina, bahkan membunuh para utusan yang datang. Akhirnya anak pemilik kebun pun dibunuh.

Perumpamaan ini adalah kisah cinta Allah kepada manusia sepanjang sejarah keselamatan. Allah mempercayakan dunia, kehidupan, talenta, keluarga, dan berbagai berkat kepada manusia. Namun, dosa membuat manusia lupa bahwa semuanya hanyalah titipan.

Dari pengelola, manusia berubah menjadi pemilik. Dari penerima anugerah, manusia berubah menjadi penguasa yang merasa berhak atas segala sesuatu. Ketika itu terjadi, kehadiran Allah tidak lagi dianggap sebagai berkat, melainkan ancaman.

Surat Rasul Petrus mengajak kita mengambil jalan yang berbeda. Rasul Petrus mengingatkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh. Karena itu, iman harus terus bertumbuh menjadi kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, persaudaraan, dan kasih.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Hatimu Menjadi Hambar

Menarik bahwa Petrus tidak mengajak umat untuk memiliki lebih banyak, tetapi untuk menjadi lebih baik. Dunia sering bertanya, “Apa lagi yang bisa saya miliki?” Sedangkan Sabda Tuhan bertanya, “Menjadi orang seperti apakah saya sedang dibentuk?” Hidup rohani bukan soal menumpuk berkat, melainkan menghasilkan buah dari berkat yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.

Hari ini Gereja memperingati Santo Yustinus, Martir. Sebelum menjadi martir, Yustinus adalah seorang pencari kebenaran. Ia mempelajari berbagai aliran filsafat dan menghabiskan hidupnya untuk mencari makna yang sejati. Ketika menemukan Kristus, ia menyadari bahwa kebenaran bukan sesuatu yang harus dimiliki untuk membanggakan diri, melainkan sesuatu yang harus dihidupi dan dibela.

Karena kesetiaannya kepada Kristus, ia ditolak, diadili, dan akhirnya menyerahkan hidupnya sebagai martir. Santo Yustinus mengajarkan bahwa kebenaran sejati tidak membuat seseorang menjadi sombong, tetapi membuatnya semakin rendah hati untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah kita masih hidup sebagai pengelola yang setia atau sudah mulai bertindak sebagai pemilik? Jangan sampai kita menganggap hidup, keluarga, jabatan, kemampuan, dan segala berkat sebagai milik kita sendiri. Semuanya adalah anugerah yang dipercayakan Tuhan untuk menghasilkan buah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Darah Kristus dan Keagungan Martabat Manusia

Belajarlah dari Santo Yustinus yang tidak menjadikan hidupnya miliknya sendiri, melainkan persembahan bagi kebenaran. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak yang kita kuasai, tetapi seberapa setia kita mengelola dan menghasilkan buah dari apa yang telah dipercayakan kepada kita.

Petikan BUSA-H untuk kita #01/06/26:

”Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa setia kita mengelola apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.”

”Ketika manusia mulai merasa sebagai pemilik, ia perlahan menutup telinga terhadap suara Tuhan; tetapi ketika ia sadar dirinya pengelola, ia belajar hidup dalam syukur dan tanggung jawab.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhenti Menghitung Mulailah Menjadi

”Hidup, keluarga, komunitas, talenta, dan segala berkat bukanlah milik yang harus dikuasai, melainkan anugerah yang harus menghasilkan buah bagi Tuhan dan sesama.”

”Semua yang kita genggam suatu hari akan kita lepaskan; yang akan tinggal  hanyalah buah dari kasih dan kesetiaan yang kita hasilkan.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan