Kamis, 20 Agustus 2026. Peringatan Wajib St. Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja. Kitab Yehezkiel 36:23-28; Matius 22:1-14.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih, uudangan Tuhan tidak pernah berkurang bagi kita setiap hari, tetapi apakah sungguh sudah memasuki hati kita?
Dalam Injil hari ini, pesta telah tersedia dan undangan telah disampaikan, tetapi ada yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan ada yang datang tanpa kesiapan yang pantas. Perumpamaan ini menegaskan bahwa panggilan Allah menuntut jawaban hidup, bukan sekadar kehadiran lahiriah:
“Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Di sinilah nubuat Yehezkiel memberi kedalaman bahwa Allah sendiri berjanji, “Kalian akan Kuberi hati yang baru dan Roh yang baru di dalam batinmu.”
Tuhan bukan hanya memanggil kita memasuki perjamuan-Nya; Ia hendak mengganti hati yang membatu dengan hati yang peka terhadap kehendak-Nya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika yang Kita Miliki Mulai Memiliki Kita
Santo Bernardus memahami perjalanan ini sebagai perjalanan kasih. Semakin manusia mengenal Allah, semakin hidupnya ditata oleh kasih kepada Allah dan sesama, suatu corak spiritualitas yang kuat dalam warisannya.
Kita pun dapat menjadi orang-orang yang diundang tetapi tidak sungguh datang. Kita hadir dalam Ekaristi, tetapi hati tetap dikuasai dendam dan cemburu; berdoa, tetapi menutup mata terhadap orang miskin; berbicara tentang kasih, tetapi mudah merendahkan, memfitnah, dan menghakimi sesama.
Di tengah berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan, kita bahkan dapat begitu sibuk mengejar kepentingan, kenyamanan, uang, dan pengakuan sehingga jeritan sesama pun dijadikan konten untuk memamerkan diri atau kelompok.
Santo Bernardus menunjukkan jalan lain. Keheningan di hadapan Allah tidak membuatnya melarikan diri dari dunia. Kedalaman hidup rohaninya justru menggerakkannya untuk terlibat dalam persoalan Gereja dan masyarakat, bukan demi mencari perhatian, melainkan demi melayani.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur
Dalam spiritualitas Bernardus, pembaruan manusia bergerak dari kerendahan hati dan pengenalan diri, menuju kontemplasi, lalu bermuara pada kasih kepada Allah dan sesama.
Spiritualitas yang sejati bukanlah menyembunyikan diri dari dunia, melainkan membiarkan perjumpaan dengan Tuhan membarui hati, menjernihkan mata untuk melihat penderitaan sesama, dan menggerakkan tangan untuk melayani.
Karena itu, jangan puas hanya menjadi orang yang “sudah diundang”. Izinkan Tuhan menjadikan kita manusia berhati baru. Hari ini, sisihkan beberapa menit dalam keheningan dan tanyakan dengan jujur, “Tuhan, bagian mana dari hatiku yang masih membatu?” Lalu lakukan satu tindakan kasih yang nyata dengan menghampiri orang yang sedang terluka, berdamailah dengan orang yang kita jauhi, atau bagikan waktu dan rezeki kepada mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
Jangan sampai doa kita panjang tetapi belas kasih kita pendek. Jangan sampai altar kita dekati sementara penderitaan sesama kita hindari.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Maria, Tanda Harapan dan Hambatan Kasih di Tengah Guncangan
Seperti Santo Bernardus, masuklah ke dalam keheningan untuk mengasihi Allah, lalu keluarlah membawa kasih itu ke tengah dunia. Sebab hati yang sungguh bertemu Tuhan tidak akan pulang sebagai hati yang sama, tetapi sebagai hati baru yang siap mengasihi, melayani, dan meringankan beban sesama.
Petikan BUSA-H #20/08/2026
“Jangan sampai doa kita panjang tetapi belas kasih kita pendek, sebab hati yang sungguh bertemu Tuhan akan semakin peka terhadap luka sesama.”
“Jangan hanya datang memenuhi undangan Tuhan, tetapi izinkan Dia memberi kita hati baru yang mampu melihat penderitaan, mendekati yang terluka, dan meringankan beban sesama.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Perubahan Hidup Dimulai dari Pilihan Kita Sendiri
“Masuklah ke dalam keheningan untuk mengasihi Allah, lalu keluarlah membawa kasih kepada sesama dengan keberanian untuk melayani.”
“Jangan sampai altar kita dekati tetapi penderitaan sesama kita hindari, sebab Tuhan yang kita jumpai dalam doa mengutus kita untuk menemukan-Nya dalam diri mereka yang membutuhkan kasih.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@






