Satu Abad Watu Gamba, Pesan Perempuan Cantik dari Titik Nol Pulau Flores di Km 17 Ende-Maumere

Prasasti Watu Gamba di Jalan Trans Flores Km 17, Desa Tomerabu 2, Kecamatan Ende, Kabuoaten Ende, Pulau Flores.  (dewadet.com/eginius moa).

ENDE,dewadet.com-Bongkah batu raksasa berwarna hitam kokoh berdiri pada tikungan jalan nasional Trans Flores lintas Ende-Maumere tepatnya di Km 17 wilayah Desa Tomberabu 2, Kecamatan Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sepintas, batu tersebut ‘hiasan’ kepada setiap pelintas di ruas jalan Maumere-Ende atau sebaliknya. Letaknya berbatasan sekitar dua sampai tiga meter dengan jurang dalam di sisi selatan.

Warga setempat menamainya Watu Gamba. Pada sisi barat batu tersebut menempel prasasti marmer bertulis, FLORESWEG GEOPEND 31 Agustus 1925.

Apa gerangan dengan batu raksasa yang tak pernah digeser atau bahkan mungkin dihancurkan dalam proyek pelebaran di ruas yang terkenal dengan jurang dalam?

Baca juga: 18 Desa di Sikka Tak Terima Ayam Kampung, Rugi Rp 1,3 Miliar, Penyedia Bilang Ayam Mati, Uang untuk Urusan Pribadi

Banyak kisah dari batu raksasa yang sangat dipercaya masyarakat setempat. Bukan hanya pesan yang terpahat dari prasasti.

Prasasti pada batu ini menjadi penanda dibukanya jalan Trans Flores pada masa pemerintahan Belanda menjajah Indonesia.

Jalan Trans Flores berkelok-kelok mengitari punggung bukit, turun ke lembah, mendaki lagi ke punggung bukit ke pesisir. Liukan yang entah berapa banyak belum ada yang menghitungnya.

Hari Minggu  31 Agustus 2025, tepat 100 tahun usia prasasti memberi pesan tentang jalan yang dirintis dan dibangun dengan kerja paksa oleh pemerintah kolonial Belanda yang menggerakan warga lokal.

Baca juga: Jaksa Lanjutkan Kasus Dana Covid RSUD Maumere, PKB Sikka Dorong Pansus Tata Kelola

Entah berapa banyak tenaga manusia yang dikerahkan membangun jalan yang menghubungkan Pulau Flores dari barat ke arah timur. Entah berapa banyak pula warga yangg menjadi korban dari cara kerja paksa penjajah.

Budayawan asal Ende, Titus Tara, menuturkan prasasti Watu Gamba menceritakan tentang perintisan pembangunan jalan lintas Flores dari Maumere ke Ende pada tahun 1920.

Pekerjaan ini berlanjut lagi antara tahun 1923 sampai 1924 menemui hambatan pada lokasi yang kini di sebut Kilometer 17. Sebongkah batu raksasa menghalangi pelebaran jalan, sedangkan jalan sempit. Sisi atas terbentur bukit dan sisi bawah terdapat jurang dalam.

Batu raksasa yang menghalangi pengerjaan jalan, kisah Titus Tara dilaporkan kepada Ratu Belanda, Wihelmina. Ibu Ratu mengutus sekelompok mahasiswa Belanda untuk meneliti batu tersebut agar jalan bisa dilebarkan. Batu ini akan diledakan menggunakan bahan peledak.

Baca juga: WantiWanti Kajari Sikka, Jaksa Mundur dari Pendampingan Kalau Teguran Diabaikan

Penuturan narasumber Gedhe Ngasu, Hasan Ngoi, dan Reba Redo asal Tumberabu didukung oleh Ketua Adat Kampung One Witu Ende, Haji Abdulah Dae Mare, kisah Titus Tara, empat orang warga lokal mendampingi sekelompok mahasiswa Belanda berencana meledakan Watu Gamba..

Batu raksasa tersebut tidak bisa diledakan. Justru sebaliknya,para mahasiswa asal Belanda jatuh pingsan ditempat dan menemui ajalnya di Ende.

Kisah tuturan, kata Titus Tara, sebelum para mahasiswa ini meninggal dunia, muncul perempuan cantik dari batu tersebut. Perempuan itu berkata ,”Mengapa kamu hancurkan tanah kami. Mengapa kamu bakar rumah kami. Kami akan usir kamu dari sini.”

Musibah itu tak hanya menimpa mahasiswa Belanda. Empat warga lokal yang menemani mereka mendadak buta dan tuli selama 19 bulan. Ketika sembuh, mereka menceritakan situasi mistik yang dialaminya. Semenjak musibah itu, kisah Watu Gamba tersiar ke seluruh Lio dan Ende.

Baca juga: Magdalena Tahan Air Mata, Nonton Afril di Barisan Paskibraka Penurunan Bendera di Istana Merdeka

Kejadian itu tak membuat kapok Ratu Belanda.  Kisah Titus Tara, Ratu mengutus lagi kelompok mahasiswa datang mengukur Pulau Flores. Kelompok mahasiswa yang satu datang dari arah timur menyatakan bahwa titik nol Pulau Flores ada di Kilometer 13.

Sedangkan kelompok mahasiswa yang datang dari barat menyatakan titik nol ada di Watu Gamba. Silang pendapat terjadi menentukan titik nol, sehingga disepakati titik nol Pulau Flores ada di Watu Gamba sebagai sentral Pulau Flores. Cerita yang terus terus berkembang hingga tahun 1940. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan