BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pegang Tuhan, Pasti Bahagia
Senin, 08 Juni 2026. Hari Biasa Pekan X. Kitab Pertama Raja-Raja 17:1-6; Matius 5:1-12
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Sebagian besar dari kita senang hidup dalam kepastian. Kita ingin tahu apa yang akan terjadi besok, memiliki tabungan yang cukup, pekerjaan yang aman, relasi yang terjamin, dan rencana yang berjalan sesuai harapan. Kita merasa tenang jika segala sesuatu berada dalam kendali kita.
Namun, Sabda Tuhan hari ini memperlihatkan sebuah paradoks yang menarik: Allah sering kali berkarya justru pada saat kita tidak lagi memiliki banyak pegangan selain Dia sendiri.
Dalam bacaan pertama, Nabi Elia tampil secara tiba-tiba di hadapan Raja Ahab dan mewartakan bahwa tidak akan turun hujan di Israel. Sesudah itu Tuhan menyuruh Elia pergi ke tepi Sungai Kerit. Di sana Elia hidup dalam kesunyian dan ketidakpastian. Ia tidak mempunyai lumbung, tidak memiliki persediaan makanan, bahkan tidak tahu bagaimana hari esok akan berlangsung.
Namun, Tuhan memeliharanya melalui burung-burung gagak yang membawa roti dan daging setiap hari. Menarik bahwa mukjizat itu tidak terjadi sekali untuk selamanya. Tuhan tidak memberi Elia persediaan untuk bertahun-tahun. Tuhan memberi secukupnya untuk setiap hari. Elia sedang diajar bahwa hidup rohani bukan pertama-tama soal memiliki jaminan, melainkan soal belajar mempercayai penyelenggaraan Tuhan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ada Tempat Bagimu di Meja-Ku
Pengalaman Elia membantu kita memahami Sabda Bahagia dalam Injil hari ini. Pada pandangan pertama, kata-kata Yesus terdengar aneh. Dunia biasanya menyebut berbahagia adalah mereka yang kuat, berhasil, dihormati, dan memiliki banyak hal.
Namun, Yesus menyebut berbahagia orang yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang membawa damai, bahkan yang dianiaya karena kebenaran.
Yesus tidak sedang memuji penderitaan atau kekurangan. Ia sedang menunjukkan bahwa orang-orang seperti itulah yang memiliki ruang lebih besar bagi Allah untuk berkarya dalam hidup mereka.
Menarik bahwa Sabda Bahagia bukan daftar syarat untuk masuk surga. Sabda Bahagia adalah gambaran wajah seorang murid Kristus. Orang yang miskin di hadapan Allah sadar bahwa hidupnya adalah anugerah. Orang yang lapar dan haus akan kebenaran tidak pernah puas dengan dosa dan kejahatan. Orang yang membawa damai memilih membangun jembatan daripada tembok. Orang yang murah hati lebih sibuk mengampuni daripada menyimpan luka.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Persembahan dalam Keheningan
Di situlah letak kebahagiaan yang dimaksud Yesus. Kebahagiaan itu tidak bergantung pada keadaan di luar diri, tetapi lahir dari relasi yang benar dan mendalam dengan Allah.
Saudari dan saudara terkasih, sabda Tuhan hari ini sangat relevan bagi zaman kita. Kita hidup di tengah budaya yang mengagungkan kendali, pencapaian, dan citra diri. Kita sering merasa aman karena apa yang kita miliki dan cemas saat kehilangan pegangan.
Namun, Elia dan Sabda Bahagia mengingatkan bahwa kekuatan terbesar orang beriman bukan terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada siapa yang dipercayainya. Tidak semua hal dapat kita kendalikan, tetapi kita selalu dapat mempercayakan diri kepada Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita.
Mungkin saat ini ada hal-hal yang membuat kita gelisah: kesehatan, keluarga, pekerjaan, masa depan, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Percayalah pada Dia yang selalu menyertai kita, yang mampu mengendalikan hidup kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dibentuk oleh Kebenaran, Diubah oleh Hati Terkudus Yesus
Orang yang memiliki Tuhan tidak selalu memiliki jawaban atas semua persoalan, tetapi ia memiliki alasan untuk tetap berharap. Dan sering kali, di sanalah kebahagiaan sejati selalu bertumbuh.
Petikan BUSA-H untuk kita #08/06/26:
“ Tidak semua hal dapat kita kendalikan, tetapi kita selalu dapat mempercayakan diri kepada Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita.”
“Sabda Bahagia bukan daftar orang yang beruntung, melainkan potret hati yang memberi ruang bagi Allah untuk berkarya.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih: Jarak Antara Tahu dan Menjadi
”Kebahagiaan itu sederhana, tidak bergantung pada keadaan di luar diri, tetapi lahir dari relasi yang benar dan mendalam dengan Allah.”
“Orang yang beriman tidak selalu mempunyai semua jawaban, tetapi selalu mempunyai alasan untuk tetap berharap.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





