BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia Saat Kasih Diuji
Jumat, 14 Agustus 2026. Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir
Kitab Yehezkiel 16:59-63; Matius 19:3-12.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI-saudara terkasih, kita sering menginginkan kasih yang nyaman. Kita ingin dicintai, tetapi enggan berkorban untuk mencintai dengan tulus. Kita ingin setiap relasi aman dan bertahan, tetapi kadang kurang menjaga hati, kesetiaan dalam kata, dan tanggung jawab dalam tindakan.
Dalam bacaan pertama, Allah berbicara kepada Yerusalem yang tidak setia, tetapi Allah tetap setia pada perjanjian-Nya. Dalam Injil, Yesus mengembalikan perkawinan kepada kehendak awal Sang Pencipta, bahwa laki-laki dan perempuan dipanggil menjadi satu dan setia dalam kasih.
Karena itu, Sabda hari ini berbicara tentang kesetiaan yang tidak berhenti pada perasaan, tetapi menjadi pilihan untuk tetap mencintai dengan komitmen yang utuh.
Kita hidup dalam zaman yang mudah berkata, “Kalau sudah tidak cocok, tinggalkan. Kalau salah, bukan diperbaiki, tetapi diganti.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Simpan Luka,Simpanlah Kasih
Dalam keluarga, persahabatan, pekerjaan, bahkan pelayanan, kita dapat tergoda menggantikan komitmen dengan kenyamanan, kasih dengan kepentingan, dan kesetiaan dengan keegoisan.
Media sosial pun dapat membuat perhatian kita mudah berpindah dan selalu mencari sesuatu yang baru. Padahal, kasih sejati bukan kasih yang selalu nyaman, melainkan kasih yang tetap hadir, menjaga, berjuang, dan setia bahkan saat kenyamanan itu hilang.
Kesetiaan seperti inilah yang kita lihat dalam diri St. Maksimilianus Maria Kolbe. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih kepada sesama.
Di Auschwitz, ia memberikan hidupnya untuk menggantikan seorang tahanan yang dijatuhi hukuman mati. Pengorbanannya menunjukkan bahwa kasih sejati memiliki harga yang mahal. Ia tidak bertanya, “Apa untungnya bagi saya?” Ia bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi kehidupan orang lain?”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Membicarakan, Datanglah dan Bicara
Di sini altruisme merupakan kepedulian terhadap orang lain dengan empati dan tindakan membantu tanpa mengharapkan imbalan. Karena itu, kesetiaan bukan kelemahan, melainkan keberanian untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala sesuatu.
Dalam keluarga, kesetiaan berarti tetap hadir dan mau memperbaiki relasi. Dalam pekerjaan, berarti jujur, tidak korup dan manipulasi. Dalam pendidikan, berarti tekun untuk hasil yang lebih baik. Dalam persahabatan, berarti tidak meninggalkan orang hanya karena ia sedang jatuh. Dalam pelayanan Gereja, berarti tidak bekerja hanya selama dipuji.
Kasih yang sejati bukan mencari siapa yang dapat memenuhi kebutuhan kita, tetapi bertanya kepada siapa kita dapat menjadi berkat.
St. Maksimilianus mengajarkan bahwa hidup menjadi luar biasa bukan karena kita berhasil mempertahankan hidup kita dengan berbagai kesuksesan, melainkan karena kita berani mempersembahkannya bagi orang lain.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Demi yang Satu
Karena itu, saudari-saudara, mari kita membawa Sabda hari ini ke dalam tiga keputusan sederhana. Pertama , setialah dalam hal kecil. Jangan menunggu kesempatan besar untuk menunjukkan kasih. Mulailah dengan menepati janji, mendengarkan sahabat, menyelesaikan tanggung jawab, dan hadir bagi orang yang membutuhkan.
Kedua , berkorbanlah tanpa banyak perhitungan. Kurangi ego, gengsi, keinginan untuk selalu menang, dan kebutuhan untuk selalu dipuji.
Ketiga, jadikan kasih sebagai kesaksian iman. Caranya, jangan takut kehilangan sesuatu demi kasih. Sebab di dalam Kristus, pengorbanan tidak pernah menjadi akhir.
St. Maksimilianus telah membuktikannya. Ia memberikan hidupnya, tetapi kesaksiannya terus hidup. Sebab orang yang hidup hanya untuk dirinya akan berakhir bersama dirinya, tetapi orang yang memberikan hidupnya dalam kasih akan meninggalkan kehidupan bagi orang lain.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berani Habis Supaya Berbuah
Petikan BUSA-H #14/08/2026
”Kasih sejati tidak terbukti saat semuanya mudah, tetapi saat kita terluka, kecewa, dan tetap memilih untuk setia.”
“Jangan hanya bertanya, “Siapa yang dapat memenuhi kebutuhanku?” Bertanyalah, “Kepada siapa hidupku dapat menjadi berkat?”
“St. Maksimilianus Kolbe mengajarkan bahwa hidup menjadi luar biasa bukan karena kita berhasil mempertahankan hidup bagi diri sendiri, melainkan karena kita berani mempersembahkannya bagi sesama.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Kristus Memimpin, Badai Kehilangan Kuasanya
”Jangan takut kehilangan sesuatu demi kasih, sebab hidup yang diberikan dengan tulus tidak pernah sia-sia; ia dapat menjadi harapan bagi kehidupan orang lain.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





