Gubernur Dedi Mulyadi Akhirnya Bertemu Pekerja Eltras Pub Korban TPPO

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mendapat pengalungan sarung Sikka di Bandara Frans Seda Maumere, Senin pagi 23 Februari 2026. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE,dewadet.com-Kunjungan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Kang Dedi Mulyadi alias (KDM) ke Kota Maumere, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Senin pagi 23 Februari 2026 disambut antusias warga Kota Maumere.

Ia akan  melakukan dialog dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F) yang menampung 13 orang pekerja Eltras Pub dan Karaoke asal Jabar yang menjadi korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

KDM tiba dengan pesawat carteran Susi Air dari Kota Ende di Bandara Frans Seda Maumere, yang ditempuh selama 20-an menit. Dia terbang dari Bandara Komodo Labuan Bajo, Manggarai Barat, setelah tiba di kota wisata premium pada minggu sore, 22 Februari 2026.

Orang nomor satu di Jabar mendapat pengalungan sarung Sikka. Puluhan warga Maumere dan diaspora Jabar  di Maumere menyambutnya dengan antusias. Dia bahkan juga berdialog singkat dengan pengemudi angkutan Bandara Frans Seda sebelum bergegas menuju lokasi pertemuan di TRuK-F.

Baca juga:Pemda Sikka Terbitkan Surat Penutupan Eltras Pub dan Karaoke

Kedatangan Dedi Mulyadi merespon pembicaraanya dengan Koordinator Divisi Perempuan dan Anak TRuK-F, Suster Ika sepekan lalu. Lembaga ini menampung dan mengadvokasi 13 orang perempuan pekerja Eltras Pub dan Karoke yang diduga menjadi korban TPPO . Saat ini, kasus dugaan TPPO sedang ditangani Satuan Reskrim Polres Sikka.

Sebelumnya Jaringan Hak Asasi Manusia (HAM) Kabupaten Sikka membeberkan dugaan eksploitasi fisik dan seksual yang mendera 13 orang pekerja Eltras Pub dan Karaoke dalam rapat dengar pendapat dengan DPRD Sikka, Selasa 9 Februari 2026 di ruang sidang utama.

Staf Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IFTK Ledalero, Randi Laja membacakan rilis Jaringan HAM Sikka menyebut manajemen pub memberlakukan sejumlah denda kepada para pekerja. Jika menolak melayani kebutuhan seksual tamu dikenakan denda Rp 2,5 juta, denda adu mulut Rp 2,5 juta, denda berkelahi dan merusakkan fasilitas pub Rp 5 juta dan denda masuk kamar teman Rp 100 ribu.

Jika hendak membeli sesuatu seperti air mineral, pekerja pub harus membayar karyawan pub Rp 50 ribu. Untuk urusan pelesir harus membayar Rp 200 ribu dan untuk ulang tahun rekan kerja mereka harus merogoh gocek Rp 170 ribu.

Baca juga:Bukti Kubur Janin LC Pub Eltras Dipegang Jaringan HAM Sikka

Ke-13 pekerja pub berasal dari Bandung, Cianjur, Karawang, Provinsi Jawa Barat berusia 17-26. Namun ada juga yang mulai bekerja sejak berusia 15 tahun.

Perekrutan mereka dilakukan melalui teman yang telah terdahulu kerja di Kota Maumere dalam rentang waktu , dalam rentan waktu yang berbeda-beda antara 2023-2025.

Sejak awal perekrutan, para pekerja diduga telah dikondisikan untuk masuk ke dalam jebakan dokumen. Mereka dipaksa membuat surat persetujuan orang tua yang ditulis tangan, namun isinya didikte sepenuhnya oleh Rio Lameng dan Andi Wonasoba. Seorang anak dipalsukan dokumen kelahirannya karena pada saat perekrutan dia baru berusia 15 tahun.

Pada saat direkrut mereka dijanjikan upah Rp 8 juta, mess gratis, mendapat pakaian dan fasilitas kecantikan gratis. Kenyataan yang mereka alami masih jauh panggang dari api. Mereka mengalami kekerasan fisik dan mental dari pengelola Pub Eltras seperti dipaksa kerja waktu sakit, dijambaki, diludahi, ditampar, diseret dan dicekik.

Baca juga:Menolak Ditiduri Tamu, Pekerja Pub Deltras Maumere Didenda Rp 2,5 Juta

Ketegangan mencapai puncaknya pada 20 Januari 2026. Pesan singkat WhatsApp kepada Suster Ika, SSpS, para pekerja mengungkapkkan kondisi batin yang hancur. Mereka mengaku berada dalam tekanan hebat (stres) karena kekerasan yang terus-menerus dan rasa ketakutan untuk keluar dari lingkungan pub.

“Mereka memohon agar Suster Ika, SSpS melaporkan hal ini ke Polres agar mereka segera dijemput dan diselamatkan,” demikian Randi Laja.

RDP diipimpin Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi dengan Jaringan HAM Sikka dihadiri Koordinator TRuK-F, Suster Ika, para mahasiswa BEM IFTK, Rektor IFTK, Prof.Dr.Oto Gusti, JPIC SVD, Pater Vanden Raring, Puslit Chandraditya, Pater Huber Thomas, mantan Bupati Sikka, Aleks Longginus, para suster, dan lima karyawa pub. Saat ini para karyawan pub ditampung di Selter TRuK-F.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan