Minggu, 16 Agustus 2026. Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Wahyu 11:19a; 12:1-6a.10ab; 1 Korintus 15:20-26; Lukas 1:39-56.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih, hari ini kita merayakan Maria yang diangkat ke surga justru di tengah dunia yang sedang diguncang oleh bencana. Tanah boleh berguncang, bangunan boleh retak, hati kita boleh gemetar karena ketakutan dan kehilangan, tetapi janji Allah tidak pernah retak dan kasih-Nya tidak pernah runtuh.

Wahyu memperlihatkan kepada kita perempuan yang berdiri di tengah pergulatan besar, tetapi karya keselamatan Allah tidak dapat dikalahkan; Paulus mewartakan Kristus yang bangkit sebagai buah sulung, sebab maut bukanlah kata terakhir; dan Lukas memperlihatkan Maria yang, sesudah menerima panggilan Allah, segera bangkit dan pergi membawa Kristus kepada Elisabet.

Inilah pesan Hari Raya ini bagi kita, iman bukan tempat untuk melarikan diri dari guncangan hidup, melainkan kekuatan untuk tetap berdiri, berharap, dan bergerak membawa kasih Allah di tengah guncangan itu.

Karena itu, di tengah gempa yang mengguncang tanah dan kehidupan kita, jangan biarkan ketakutan mengguncang iman, jangan biarkan kehilangan meretakkan persaudaraan, dan jangan biarkan penderitaan mematikan harapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Perubahan Hidup Dimulai dari Pilihan Kita Sendiri

Maria mengajarkan kepada kita bahwa orang yang menaruh hidupnya dalam tangan Allah dapat tetap berdiri dalam badai, dan orang yang berharap kepada Kristus selalu mempunyai alasan untuk bangkit, berjalan, dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Harapan itu memiliki dasar yang kokoh dalam Sabda Tuhan. Dalam Wahyu, Maria tampil sebagai perempuan yang berada di tengah perjuangan besar, tetapi Allah tetap berkarya dan akhirnya terdengarlah seruan bahwa keselamatan, kekuasaan, dan pemerintahan Allah telah datang.

Paulus pun menegaskan bahwa Kristus telah bangkit sebagai buah sulung, dan pada akhirnya maut sendiri akan dikalahkan. Maria yang diangkat ke surga adalah tanda bahwa keselamatan Kristus bukan janji kosong. Allah membawa manusia menuju kehidupan.

Karena itu, guncangan hidup yang sedang kita alami tidak boleh ditafsir sebagai tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Dalam penderitaan, kita justru dipanggil untuk semakin dekat kepada-Nya dan semakin dekat satu sama lain..

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia Saat Kasih Diuji

Karena itu, iman kita tidak boleh berhenti pada doa agar bencana segera berlalu, tetapi harus menjelma menjadi keberanian untuk saling menopang dan menguatkan yang kehilangan, melindungi yang lemah, dan membangun kembali kehidupan bersama.

Dalam keadaan darurat, iman yang sejati bukan hanya terlihat dari tangan yang terangkat dalam doa, tetapi juga dari tangan yang terulur menolong; bukan hanya dari bibir yang menyebut nama Tuhan, tetapi dari hati yang peka terhadap jeritan sesama.

Pengalaman berbagai bencana menunjukkan bahwa iman dan jaringan komunitas dapat menjadi sumber dukungan spiritual, solidaritas, dan ketangguhan dalam proses pemulihan.

Maka, di tengah penderitaan, kita tidak hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi?” , tetapi juga berani bertanya, “Tuhan, melalui keadaan ini, kasih seperti apa yang Engkau minta kami wujudkan?”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Simpan Luka,Simpanlah Kasih

Saudari-saudara terkasih, iman dan harapan kepada Allah harus menjadi kasih yang bekerja. Maria, setelah menerima kabar dari malaikat, tidak tinggal diam menikmati pengalaman rohaninya yang indah, tetapi segera berangkat mengunjungi Elisabet. Ia membawa Kristus dalam dirinya dan membawa kasih Allah kepada sesamanya.

Inilah iman yang hidup, iman yang bergerak menuju pelayanan. Demikian pula dalam situasi darurat bencana ini, iman kita dipanggil menjadi tangan Tuhan bagi mereka yang membutuhkan. Periksalah keadaan orang tua, anak-anak, orang sakit, penyandang disabilitas, para lansia, dan mereka yang tinggal sendirian.

Ulurkan tangan kepada mereka yang paling terdampak. Jangan menyebarkan foto, video, atau berita yang belum jelas hanya demi perhatian, karena di tengah kepanikan satu berita yang tidak benar dapat menambah luka.

Dalam keluarga dan KBG, marilah kita berdoa bersama, saling menguatkan, dan mengutamakan keselamatan. Gereja, kapela, rumah, dan tempat-tempat ibadah yang rusak dapat kita bangun kembali kemudian, tetapi manusia yang terluka membutuhkan kehadiran dan pertolongan kita sekarang.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Membicarakan, Datanglah dan Bicara

Maria mengajarkan kepada kita bahwa iman yang benar selalu melahirkan kepedulian, dan kasih yang sejati selalu menemukan jalan untuk hadir.

Saudara-saudari terkasih, mungkin malam tadi sebagian dari kita tidur dengan rasa takut karena tanah masih berguncang. Namun hari ini pandanglah Maria yang diangkat ke surga. Ia dimuliakan bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena rahmat Allah yang bekerja dalam diri seorang hamba yang rendah hati, taat, dan setia.

Kita pun akan melewati masa yang masih penuh guncangan ini. Karena itu, marilah kita menghadapinya dengan hati yang teguh, kepala yang tenang, dan tangan yang saling menggenggam.

Inilah semangat sinodalitas, kita tidak berjalan sendiri, melainkan berjalan bersama, mendengarkan, saling menopang, dan bersama-sama diutus untuk menghadirkan kasih Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Demi yang Satu

Dalam semangat Gereja Indonesia dan Asia, kita dipanggil menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan; menjadi pembawa harapan bagi mereka yang takut, suara bagi mereka yang terlupakan, dan tangan bagi mereka yang membutuhkan.

Karena itu, ikutilah arahan pemerintah dan petugas kebencanaan, dengarkan para pemimpin masyarakat, dan bangun koordinasi yang baik dalam keluarga, KBG, paroki, keuskupan, serta bersama semua orang yang berkehendak baik.

Hari ini kita tidak hanya memohon agar Maria melindungi kita, tetapi juga memohon rahmat untuk menjadi seperti Maria yang menjadi jembatan kasih di tengah dunia yang terluka. Maria yang Diangkat ke Surga, doakanlah kami dan seluruh saudara-saudari yang terdampak bencana.

Bumi boleh berguncang, tetapi iman kita jangan goyah; hidup boleh terluka, tetapi kasih kita jangan menyerah; dan di tengah segala guncangan, marilah kita menjadi jembatan kasih agar tidak seorang pun berjalan sendirian menuju kehidupan baru. Tuhan memberkati kita dan Bunda Maria mendoakan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berani Habis Supaya Berbuah

Petikan BUSA-H #16/08/2026

”Bumi boleh berguncang dan hidup boleh terluka, tetapi iman kepada Kristus tidak boleh goyah dan harapan tidak boleh runtuh.”

”Maria menunjukkan bahwa iman yang sejati bukan melarikan diri dari penderitaan, melainkan bangkit, membawa Kristus, dan menjadi berkat bagi mereka yang terluka.”

”Dalam bencana, tangan yang terulur menolong adalah doa yang menjadi nyata, dan hati yang peduli adalah tanda bahwa kasih Allah masih bekerja di tengah kita.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Kristus Memimpin, Badai Kehilangan Kuasanya

”Jadilah jembatan kasih, bukan tembok pemisah, agar di tengah segala guncangan tidak seorang pun berjalan sendirian menuju harapan dan kehidupan baru.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@ 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan