FGR Berdalih STN Sudah Kembali ke Rumah, Mengaku Sehari Setelah Habisi Pelajar SMP Ohe
MAUMERE,dewadet.com-Penyidik Kepolisian Resot (Polres) Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) memeriksa enam orang saksi membeberkan kronologi kematian STN (14), remaja putri asal Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Pulau Flores,Jumat 20 Februari 2026 sekitar pukul 15.00 Wita.
Pada Jumat malam itu, ibu dan tante korban sempat mendatangi rumah pelaku FGR menanyakan keberadaan STN. Namun FGR berdalih, korban sudah kembali ke rumahnya.
Kaur Bin Ops Reskrim Polres Sikka, Iptu I Nyoman Ariasa, dalam konferensi pers Senin 2 Februari 2026 di Mapolres Sikka mengatakan bahwa penyidik telah meminta keterangan Vincentius Sawe, Maria Putriana Bunga, Marieta Betrik, Yafrianus Padak, Maria Maesti, dan Saferius Gewar. Mereka semua menghadiri upacara adat di rumah keluarga Beradus Buko di kmpunf tetangga
Kejadiannya ketika STN, pelajar kelas VIII SMP MBC Ohe datang ke rumah FGR mengambil gitar miliknya yang dipinjam oleh FGR. Saat itu di rumah hanya FGR seorang diri.
Baca juga:Remaja Putri SMP MBC Ohe Dipaksa Hubungan Badan, Dibunuh dan Disembunyikan di Kali
Di dapur, kata Ariasa, FGR membelah buah durian mengunakan parang. Selesai makan durian, dia memaksa korban melakukan hubungan badan. Pelaku minta kejadian tersebut tidak diceritakan kepada orang lain. Sedangkan pelaku menyaksikan korban menelepon seseorang,membangkitkan amarah hingga perkelahian.
“Pelaku menganiaya korban mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujar Ariasa.
Setelah korban meninggal, pelaku menyeret dan menyembunyikan jasad korban di dekat kali. Jasadnya ditutupi dengan daun talas dan dia kembali ke rumah.
Sekitar pukul 22.30 Wita, beberapa orang saksi pulang dari tempat acara adat.
Baca juga:Ayah dan Anak Diamankan Polisi Diduga Terkait Kematian Pelajar SMP MBC Ohe
Ariasa melanjutkan, sekitar pukul 23.30 Wita, ibu dan tanta korban mendatangi rumah FGR menanyakan keberadaan STN. Meski FGR berdalih bahwa STN sudah pulang.
Pada hari Sabtu, 21 Februari 2026 sekitar pukul 14.00 Wita, kakek pelaku dijemput oleh keluarga korban untuk upacara adat. Sekembalinya dari ritual adat,sang kakek meminta FGR supaya terus terang mengakui perbuatannya.
“Pelaku jujur kepada semua (anggota keluarga), bahwa dialah yang menghilangkan nyawa korban,” jelasnya.
Kakek pelaku mengajaknya melihat jenazah korban.Karena takut, sang kakek melarikan diri, sementara pelaku kembali menyeret dan menyembunyikan jenazah korban di tempat lain ditutupi dengan kayu dan daun bambu. Setelah itu, dia kemudian melarikan diri ke Ende. *




