Jeck Herin, Koresponden AP dan Jakarta Post Diganjari Medali Ordem de Timor Leste

Jakobus Herin (kiri) bersama para penerima penghargaan dari Pemerintah Timor Leste, Senin 19 Mei 2025 di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato Dili. (dok pribadi).

MAUMERE,dewadet.com-Jakobus Herin, tinggalkan Kota Dili, ibukota Provinsi Timor Timur (Timtim), eks Provinsi RI ke-27 yang kini menjadi negara merdeka Timor Leste pada 1998, pasca kemenangan Kelompok Pro Kemerdekaan atas Pro Integrasi.

Dua puluhan tahun lebih menjalani profesi wartawan di wilayah bergejolak itu tidak mudah bagi Jeck Herin, sapaanya.

Ia dekat dengan berbagai elemen, kelompok dan elit. Sipil, militer dan banyak tokoh berpengaruh di sana dengan segala macam kepentingan.

Kemudahan akses kepada semua pemangku kepentingan itu semata mendapatkan bahan untuk pemberitaan. Independensi sebagai jurnalis tetap dijunjungnya.

Baca juga: Ignatius Suharyo, Kardinal Ketiga Indonesia Memilih Paus

Nama Jeck Herin, di masa 1990-an cukup dikenal lewat berbagai laporan di harian berbahasa Inggris, Jakarta Post dan juga Kantor Berita Amerika, Associated Press (AP). Terlebih lagi di media lokal, Suara Timor Timur   (STT) bersama almahrum Valens Goa Doi, guru dan pendiri banyak media cetak di Tanah Air. Berita-berita Timor Timor menjadi sajian rutin setiap hari.

Selain sebagai jurnalis, Jeck Herin kerap kali menulis buku. Sudah banyak karya ditorehkan semenjak di Dili dan kini di Maumere.

“Saya pernah tulis buku yang terbit setelah referendum 1999. Buku Bahasa Indonesia,”PBB Bertanggungjawab atas Pemusnahan Penduduk Timor Timur,” kenang Jeck Herin, Senin 14 Juli 2025 di kediamannya di Maumere.

Dua eksemplar buku itu pernah dikirim Jeck kepada sahabatnya di Dili agar diserahkan kepada Xanana Gusmao, sang Perdana Menteri. Namun, saat buku tersebut diserahkan Xanana sedang berada di Australia.

Baca juga: Jam Tangan Rolex dari Presiden Prabowo untuk Timnas Garuda usai Jaga Asa ke Piala Dunia

“Buku sudah lama terbit. Saya kirim ke Dili supaya diberikan kepada Xanana. Ketika pulang dari Australia, dia baca buka ini. Lalu tanya kepada sekretarisnya dimana orang (Jeck Herin) ini berada?,” Jeck Herin menirukan pertanyaan Xanana kepada sekretarisnya.

Jeck Herin mengaku kenal dekat dengan Xanana. Ketika Xanana ditangkap aparat TNI tahun 1992, Jeck mengaku ada di samping Xanana.

“Dia telphon sektetaris kabinet yang kebetulan mantan wartawan sama-sama dulu di Dili. Dia berikan nomor telphon saya. Saya dikabari kalau ada waktu tanggal 1 Mei 2025 mampir di Dili,” kata Jeck Herin.

Padahal selama beberapa hari di bulan Maret 2025, Jeck Herin berada di Dili menemui beberapa narasumber untuk penggarapan buku Raja Verissimo Dias Quintas (Saya Mati untuk Kemerdekaan), karya Sergio Paulo Dias Quintas. Di buku itu, Jeck Herin menulis Sekapur Siriih.

Baca juga: Megawati dan Gubran Bercanda, Pengamat Bilang, Jokowi yang Bikin Ruwet

Jeck Herin bertemu Jose Ramos Horta, Presiden Timor Leste tiga jam lamanya pada 18 Maret 2025 untuk wawancara penulisan buku tersebut. Menarik dari pertemuan dengan Ramos Horta, Jeck Herin menuturkan pernah tinggal di rumah ibunda Ramos Horta.

“Saya sampaikan kepada Pak Ramos Horta. Saya ceritakan apa adanya, selama bekerja di Dili. Liput berita dan pernah semalam ditahan oleh tentara,” kenang Jeck Herin tentang ulah oknum TNI yang membawanya di balik jeruji.

“Mungkin saja apa yang saya ceritakan dicatat oleh Sekretaris Pak Ramos Horta. Setelah kembali ke Indonesia, tanggal 14 Mei 2025, saya ditelphon diundang Presiden Timor Leste ke Dili terima penghargaan,” kata Jeck Herin.

Anugerah penghargaan ‘Ordem de Timor Leste’ diberikan Presiden Ramos Horta kepada 101 orang terjadi pada Peringatan 23 Tahun Restorasi Kemerdekaan Timor Leste, Senin 19 Mei 2025 di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Dili.

Baca juga: Basilika Santo Fransiskus Xaverius Dibangun di IKN

Jeck Herin terdaftar pada urutan terakhir dari 101 orang menerima Bintang Penghargaan “Meritu Ordem de Timor Leste’  Pemerintah Timor Leste disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Timor Leste.

“Setelah terima penghargaan itu, Presiden Ramos Horta datang peluk saya. Saya bilang terima kasih. Saya sampaikan, saya warga Negara Indonesia dihargai,” kenang Jeck Herin.

Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao juga berkata kepada Jeck Herin telah membantu Timor Leste melalui buku yang ditulisnya 26 tahun silam.

“Menurut mereka (Pemerintahan Negara Timor Leste), saya berjasa dalam hal pertama, seorang wartawan punya sumber berita dari Vretelin. Selama 23 tahun, semua wartawan Indonesia tidak punya sumber diakses langsung dari Vretelin. Berita saya tayang di Kantor Berita Amerika (Assoscited Press) dan Harian The Jakarta Post.  Itu yang mungkin dinilai oleh mereka saya telah berjasa. Saya bilang  tidak, sebagai wartawan saya seorang independent,” pungkas Jeck Herin. *

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan