LABUANBAJO,dewadet.com-Laporan orang hilang lima hari yang lalu disampaikan ke Polres Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur menghentak warga Kabupaten Sikka.

Dalam waktu hampir bersamaan, dua orang perempuan hilang tak tahu rimbanya. Keduanya adalah MADU (16) asa Dusun Rohot, Desa Hepang, Kecamatan Lela.  Seorang lagi MOC (21) asal Habi, Kecamatan Kangae.

Aparat Kepolisian Resort Sikka dibuat puyeng dengan pengaduan itu. Kejadian serupa lima bulan yang lalu menimpa remaja putri, Noni (13) berakhir tragis. Tiga hari berselang setelah laporan, remaja kelas II SMP MBC Ohe, Kecamatan Hewokloang ditemukan tak bernyawa. Kasus ini masih bergulir di Pengadilan Negeri Maumere.

Beragam spekulasi berkembang hilangnya dua orang perempuan ini. Kerjasama antarPolres Sikka dengan Polres Manggarai Barat (Mabar) menemukan hasil di hari kelima kepergian MADU. Sedangkan MOC belum diketahui keberadaanya,

Baca juga:Pamit ke Sekolah, Remaja Putri asal Nelle Lorang Tak Kembali ke Rumah

Dikutip dari tribratanews.com manggarai barat, MADU ditemukan Tim Unit  Reaksi Cepat  (URC) Resmob Labuan Bajo di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Sabtu 18 Juli 2026 pukul 20.10 Wita. Ditemani bibi kandungnya, ia membeli tiket KM Leuser tujuan Makassar.

MADU memulai aksi nekatnya Senin, 13 Juli 2026. Hari itu, dia menghubungi Om L, sopir dump truck menanyakan keberadaannya.Hari Selasa siang 14 Juli 2026, ia mendapat kabar bahwa Om L berada di Maumere.

Hari itulah, MADU memutuskan melarikan diri dari rumahnya di Kampung Rohot, Desa Hepang, Kecamatan Lela.

‎Ia berjalan menuju Kampung Napung Liti menunggu dijemput Om L di tepi jalan depan Gereja St. Eugenius Napung Liti. Menumpang truk tersebut, MU menempuh perjalanan darat sejauh 600 Km lebih dari menuju Manggarai Barat.

Baca juga:Jejak Sang Pejuang yang Tak Pernah Hilang

Hari Rabu malam, 15 Juli 2026, M‎ADU tiba di rumah bibi kandung, EL (38), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berkarya di Kabupaten Manggarai Barat. Dua hari dia menetap di sana.

Puncaknya terjadi pada Sabtu sore, 18 Juli 2026. Didampingi bibi EL, MADU berangkat menuju Labuan Bajo menggunakan mobil travel.

‎Tibanya di Labuan Bajo pukul 18.30 Wita,  mereka menuju Pelabuhan Marina membeli tiket KM Leuser tujuan Makassar, Sulawesi Selatan.

Namun, langkah mereka terhenti setelah Tim URC Resmob Komodo mengidentifikasi keberadaannya di area pelabuhan pada pukul 20.10 Wita.

Baca juga:Remaja Putri SMP MBC Ohe Dipaksa Hubungan Badan, Dibunuh dan Disembunyikan di Kali

‎Kapolres Mabar, AKBP Christian Kadang, mengatakan polisi menemukan fakta memilukan keterangan MADU dibalik kepergian tanpa pamit.

Ia nekat pergi karena kerinduan yang mendalam kepada ibu kandungnya yang berdomisili di Toraja, Sulawesi Selatan.

‎Sejak balita hingga usia 16 tahun, MADU tinggal bersama keluarga besarnya di Maumere. Ia belum pernah sekali pun bertemu langsung ibu kandungnya.

Rencana semula, setibanya di Pelabuhan Makassar. MADU akan dijemput oleh perwakilan keluarga ibunya untuk melanjutkan perjalanan darat menuju Toraja.

Baca juga:Besok, Reka Ulang Pembunuhan Noni di Desa Rubit

Kapolres kelahiran Toraja menaruh empati terrhadap situasi psikologis dialami sang anak. Namun,  ia tetap menekankan pentingnya prosedur keselamatan dan legalitas pengasuhan anak di bawah umur.

‎”Kami sangat memahami aspek kemanusiaan dan kerinduan seorang anak yang luar biasa di sini. Bayangkan, selama 16 tahun ia tidak pernah bersua fisik dengan ibu kandungnya. Rasa rindu itulah yang memicu keberaniannya melakukan perjalanan sejauh ini,” tutur Christian..

‎Namun pergi tanpa izin ini sangat berbahaya bagi keselamatan diri sendiri. Anak di bawah umur bepergian tanpa pendampingan sangat rentan terhadap bahaya di perjalanan.

“Pengamanan yang kami lakukan ini adalah bentuk perlindungan dan proteksi dini agar hal-hal buruk tidak menimpa anak kita ini,” tegas Christian.

Baca juga:Pelajar SMP Ambil Gitar Dipinjam Kerabat, Hilang Empat Hari Ditemukan di Kali Desa Rubit

Saat ini, MADU bersama bibinya  dalam kondisi sehat, aman, dan diberikan pendampingan psikologis yang humanis.

Polres Manggarai Barat telah melakukan koordinasi lanjutan dengan Polres Sikka untuk memastikan masa depan dan reunifikasi MADU dengan keluarganya berjalan dengan baik, legal, dan aman.

‎”Kami berkoordinasi dengan Polres Sikka memfasilitasi pertemuan korban dengan pihak keluarga di Maumere serta ibu kandungnya di Toraja. Langkah antisipasi ini agar kejadian serupa tidak terjadi di kemudian hari,” pungkasnya.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan