Tahun Ajaran Baru, SMP Santo Yohanes Nelle Terima Sembilan Peserta Didik Baru 

Peserta didik baru kelas VII SMPK Santo Yohanes Nelle, sebelah selatan Kota Maumere, Senin 20 Juli 2026. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE, dewadet.com-Hadirnya SMPN,  ongkos  sekolah negeri lebih murah serta dukungan fasilitas yang disediakan lebih menarik minat para orangtua menyekolahkan anak, dirasakan dampaknya oleh pengelola sekolah swasta di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT)

SMP Katolik Santo Yohanes Nelle dalam tahun ajaran 2026/2027 hanya kebagian sembilan peserta didik baru. Meski ada delapan sekolah dasar (SD) pendukung, jumlah murid SD yang menamatkan pendidikan dasar tahun ajaran lalu hanya 78 orang.

Ketua dan Sekretaris Yayasan Thomas (Yapenthom) Maumere menaungi SMPK  Yohanes Nelle, Ricky Mane Parera, dan Vicky da Gomes, mengatakan terobosan bebas sumbangan dua bulan untuk  70 calon peserta didik baru yang mendaftar, beasiswa, orang tua asuh bagi peserta didik kurang mampu dan asuransi kecelakaan belum bisa mendongrak minat orangtua dan peserta didik memilih SMP di Nelle.

“Hanya sembilan siswa baru. Total seluruh peserta didik 30 orang dari kelas VII, VIII dan IX ,” sambung Vicky da Gomes.

Baca juga:SMPK Santo Yohanes Nele Bebaskan Uang Sekolah, Beasiswa, Ortu Asuh dan Asuransi Kecelakaan

Vicky da Gomes menduga mahalnya biaya pendidikan menjadi salah satu hambatan para orang tua memilih sekolah swasta. Dalam tahun ajaran ini, biaya  pendidikan peserta didik baru kelas VII sebesar Rp 1.350.000, kelas VIII Rp 1.500.000, dan kelas X sebesar Rp 1.850.000.

Ricky Mane Parera menambahkan fasilitas sekolah dan biaya pendidikan mungkin menjadi sebab bagi pilihan orangtua.

Sementara dua SMP lain berlokasi di Kota Maumere, SMPK Yapenthom I menerima 70-an lebih peserta didik baru dan SMPK Yapenthom II  diminati oleh 108 siswa baru. Sedangkan SMK Santo Yohanes XXIII menerima 168 peserta didik baru.

Kepala SMPK Santo Yohanes Nelle,Hermenegildus Andreas,  dihubungi di tempat terpisah  mangatakan peserta didik baru tahun 2026/2007 sama jumlahnya dengan tahun ajaran lalu juga hanya sembilan orang.

Baca juga:Siswa SMKN 1 Maumere Dirawat Usai Santap MBG, Siswa SMK Yohanes XXII Muntah-Muntah, Ternyata Kerasukan

“Kami turun lakukan pendataan ke delapan SD pendukung, total murid SD  di kelas VI hanya 78 orang. Kami mendapatkan sembilan orang,” kata Andreas, Senin siang 20 Juli 2026.

Menurut Andreas salah satu penyebabnya, biaya sekolah lebih mahal untuk peserta didik baru dibanding dengan SMPN Nara ang bedanya sekiat 40 persen lebih.

Beberapa orangtua diakui Andreas mengeluhkan biaya pendidikan ini bila dalam satu rumah lebih dari satu pelajar , sehingga pilihanya ke SMP negeri.

Saat ini SMPK Nelle mendidik 30 pelajar diasuk sembilan orang guru dan dua tenaga tata usaha, pada angkatan Andreas tahun 1983, jumlah siswa berkisar 300-500 orang.

Baca juga:Pembunuhan Pelajar SMP Disidangkan, Ibunda Noni: Rofin, Kamu Tahu Rambut dan Jari Noni, Tolong Kembalikan

Dari sisi letak lingkungan sekolah ini lebih nyaman dan udara lebih sejuk dibanding dengan sekolah lainnya.  Tahun ini, kata Andreas, SMP Nelle mendapat alokasi dana rehabilitasi tiga ruang kelas.

SMP Tertua kedua di Flores

Yayasan Pendidikan Thomas yang menaungi tiga SMP dan satu SMK  akan memasuki usia 79 tahun pada 2026 diinisiasi pendirian oleh Raja Don Yosephus Ximenes da Silva pada tanggal 1 Mei 1947.

Yayasan ini memprakarsai SMP Yapenthom I berdiri tanggal 1 Agustus 1949 merupakan SMP swata kedua tertua di Flores setelah SMP Ndao di Kota Ende.

Baca juga:Janda dan Ibu RT Dapur MBG Mengadu ke Kejari Sikka, Kasi Intel: Sudah Pulbaket

Sedangkan SMPK Santo Yohanes Nelle semula milik Paroki Roh Kudus Nelle menyerahkan pengelolanya kepada Yayasan Pendidikan Thomas di tahun 1970-an.

“Ketika belum ada SMP negeri, SMP Yapenthom menjadi pilihan favorit bagi oara orangtua. Ribuan alumni dengan berbagai profesi tamat dari SMPN Yapenthom I dan Yapenthom II,” kata Ricky Mane Parera.

“Kami yang menerima warisan sekolah ini sedang berusaha mengembalikan lagi masa emasnya. Tantangan utama banyaknya sekolah negeri dengan tawaran baya murah bahkan gratis,” Vicku da Gomes menambahkan.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan