Air Permukaan Terkontaminasi Kromium Letusan Gunung Lewotobi, Warga Talibura Waspada

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Senin 7 Juli 2025 pukul 19.32 Wita. (pos pemantau gunung lewotobi laki-laki)

MAUMERE,dewadet.com-Letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabuoaten Flores Timur yang masih berlangsung setiap hari sampai saat ini berdampak terhadap sumber-sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat.

Warga Kecamatan Talibura yang menerima dampak letusan diingatkan tidak mengkonsumsi air permukaan (sungai) untuk memasak makan dan minuman. Air pemukaan tercemar Kromium (Cr) membayakan kesehatan memicu timbulnya penyakit Kanker.

“Letusan masih terjadi setiap hari, karena itu air permukaan tercemar Kromium valensi 3 dari letusan gunung api. Jangan digunakan untuk masak makanan dan minum, kecuali buat mandi dan cuci,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus, Kamis siang 13 Agustus 2026 di Maumere.

Petrus Herlemus mengingatkan ketika terjadi letusan besar tahun yang lalu, pencemaran air terjadi sampai di Kota Maumere.

Baca juga:Kamis Dini Hari sampai Siang, Gunung Lewotobi Laki-Laki Empat Kali Erupsi

Bahkan semenjak terjadi letusan pertama sampai saat ini, setiap bulan sampel air dikirim oleh petugas Puskemas Talibura untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Dinas Kesehatan Sikka.

“Kita bersyukur punya Labkesmas, ini satu-satunya yang ada di Pulau Flores. Andaikan tidak ada Labkesmas, tentu harus bawa keluar Sikka. Karena di Flores tidak ada,” tandas Petrus Herlemus.

Sebagaimana diketahui, letusan gunung berapi melunturkan kandungan Kromium (Cr) alami dari batuan kawah dan abu vulkanik ke dalam sumber air.

Logam berat tersebut meningkatkan kekeruhan, mengubah tingkat keasaman (pH), serta berpotensi mengganggu organ hati dan ginjal atau memicu risiko kesehatan serius jika kadarnya melewati ambang batas.

Baca juga:Empat Penerbangan di Bandara Frans Seda Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki

Karakteristik Kromium dari material vulkanik sumber alami di sekitar kawah gunung api mengandung unsur Kromium (sekitar 44–86 ppm) yang ikut terhempas bersama debu dan abu letusan.

Sifat kimia Kromium dalam air tidak berbau dan tidak berasa, sehingga keberadaannya sulit dideteksi tanpa pengujian laboratorium.

Dampak lingkungan abu dan material vulkanik membuat air permukaan keruh, asam, dan bercampur logam berat lain seperti mangan, belerang, serta seng.

Langkah pengamanannya jangan langsung mengonsumsi air dari sumur terbuka, sungai, atau penampungan air hujan yang terpapar langsung oleh abu vulkanik.

Baca juga:Gunung Lewotobi Laki-laki ‘Batuk’ Lagi, Muntahkan Abu Setinggi 1.500 Meter

Pengunaan saringan air biasa tidak cukup menyerap logam berat; diperlukan penanganan khusus atau pasokan air bersih higienis darurat.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan