BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Kristus Memimpin, Badai Kehilangan Kuasanya
Minggu, 09 Agustus 2026. Hari Minggu Biasa XIX. 1 Raja-Raja 19:9a.11-13a; Roma 9:1-5; Matius 14:22-33.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, “kehidupan tidak terutama hancur karena dashyatnya badai, melainkan karena kehilangan iman dan arah seorang pemimpin yang sanggup menuntun untuk melewatinya.”
Di mana pun ada keluarga, komunitas, Gereja, atau bangsa, di sana selalu dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menghadirkan arah, menjaga persatuan, dan meneguhkan harapan. Sebab seorang pemimpin bukan hanya mengetahui jalan atau menunjukkan jalan, melainkan berani berjalan di depan sekaligus tetap berjalan bersama semua orang yang dipimpinnya.
Tanpa kepemimpinan yang benar, setiap orang mudah berjalan menurut keinginannya sendiri. Akibatnya, kebersamaan berubah menjadi kebingungan, dan persatuan perlahan digantikan oleh kepentingan pribadi atau kelompok.
Itulah sebabnya Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan sendirian, melainkan senantiasa menghadirkan pemimpin yang mengarahkan mereka kepada kehendak-Nya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jeritan Iman yang Mencari Allah
Dari kebutuhan akan seorang pemimpin itulah bacaan pertama memperlihatkan bagaimana Allah membentuk Elia. Setelah mengalami keputusasaan dan ketakutan, Tuhan bersabda, “Hai Elia, keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan.”
Elia berharap Allah hadir melalui angin ribut, gempa bumi, atau api. Namun Allah justru menyatakan diri-Nya dalam angin sepoi-sepoi yang lembut.
Di sinilah letak pelajaran yang sangat penting. Seorang pemimpin tidak dibentuk pertama-tama oleh kekuasaan, oleh suara yang keras, atau kemampuan mengendalikan orang lain, melainkan oleh hati yang mampu berhenti, mendengarkan Tuhan, lalu bertindak sesuai kehendak-Nya.
Rasul Paulus memperlihatkan kepemimpinan yang mencapai puncaknya dalam kasih. Ia berkata, “Aku rela terkutuk demi saudara-saudaraku.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan yang Kekal Demi yang Sementara
Kalimat ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak memakai orang lain demi kepentingannya sendiri, tetapi rela berkorban agar mereka yang dipimpinnya memperoleh keselamatan. Kepemimpinan Kristiani selalu lahir dari keheningan yang mendengarkan Allah dan diwujudkan dalam kasih yang rela memberikan diri.
Dari kepemimpinan yang dibentuk oleh Allah itu, Injil membawa kita ke tengah badai di Danau Galilea. Para murid berada di dalam satu perahu, tetapi badai mengubah cara mereka memandang segala sesuatu.
Meskipun mereka berada di perahu yang sama, mereka belum tentu memiliki pemikiran yang sama, karena masing-masing mulai memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, kekuatan dan kelemahan setiap pribadi maupun kelompok akan tampak dengan jelas.
Ketakutan membuat mereka kehilangan ketenangan, bahkan kehilangan kemampuan mengenali Yesus. Ketika Yesus datang berjalan di atas air, mereka justru berseru, “Itu hantu!”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tabor Bukan Tujuan Akhir
Betapa sering hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita. Saat keluarga dilanda persoalan, komunitas menghadapi perbedaan, atau bangsa mengalami tantangan, kita lebih mudah dikuasai rasa takut daripada iman.
Kita mulai saling menyalahkan, saling curiga, dan sibuk menyelamatkan diri sendiri. Padahal Yesus tidak meninggalkan para murid. Ia datang menghampiri mereka sambil berkata, “Tenanglah! Akulah ini, jangan takut!”
Lalu kepada Petrus Ia mengucapkan satu kata yang mengubah segalanya, “Datanglah.” Yesus tidak pertama-tama meredakan badai, melainkan memulihkan iman para murid.
Sebab badai yang paling berbahaya bukanlah angin yang mengguncang perahu, melainkan ketakutan yang membuat manusia tidak lagi mengenali kehadiran Tuhan dan kehadiran satu sama lain.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Tidak Pernah Menyerah
Dari pengalaman para murid itu kita belajar bahwa persoalan terbesar dalam kehidupan bukan selalu beratnya badai, melainkan hilangnya kepercayaan kepada Pemimpin yang sejati.
Petrus mampu berjalan di atas air selama matanya tertuju kepada Yesus. Ia mulai tenggelam bukan karena ombak bertambah besar, melainkan karena pandangannya beralih dari Kristus kepada badai.
Bukankah pengalaman itu juga menjadi pengalaman kita? Ada saat-saat persoalan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, pendidikan anak, atau masa depan terasa begitu berat, sehingga kita lupa bahwa Tuhan masih berada bersama kita.
Ada pula saat-saat kita lebih percaya pada perhitungan manusia daripada pada penyelenggaraan Tuhan. Semakin hati tertuju kepada Tuhan, semakin keberanian mengalahkan ketakutan, pengharapan melampaui kecemasan, dan kasih mengatasi kepentingan diri sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Allah Menjernihkan Hati
Seorang kepala keluarga, pemimpin komunitas, pemimpin Gereja, pemimpin bangsa maupun setiap orang beriman dipanggil untuk selalu memandang Tuhan, sebab hanya orang yang dipimpin oleh Roh Tuhan mampu memimpin orang lain dengan benar.
Saudari dan saudara yang terkasih, marilah kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai Pemimpin hidup kita. Dengarkanlah suara-Nya dalam doa sebagaimana Elia, milikilah kasih yang rela berkorban seperti Paulus, dan melangkahlah dengan iman sebagaimana Petrus yang berani menjawab panggilan Yesus.
Jangan membiarkan ketakutan menjadi lebih besar daripada kepercayaan atau kepentingan pribadi mengalahkan persatuan. Selama Tuhan Yesus tetap berada di dalam perahu kehidupan kita, tidak ada badai yang mampu menghancurkannya.
Namun kita tetap ingat bahwa Tuhan yang adalah Pemimpin yang sejati tidak pernah menjanjikan hidup tanpa badai, melainkan Dia akan tetap hadir di tengah badai, mengulurkan tangan-Nya, dan menuntun kita yang percaya sampai tiba dengan selamat di tujuan yang telah disediakan-Nya. Tuhan memberkati kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Keraguan Menenggelamkan Iman
Petikan BUSA-H #09/08/2026
”Kehidupan akan hancur bukan karena dahsyatnya badai, melainkan karena kehilangan iman kepada Kristus.”
”Seorang pemimpin sejati bukanlah yang hanya menunjukkan jalan, melainkan yang berani berjalan di depan, tetap tinggal di tengah umat, dan mengorbankan dirinya agar orang lain sampai dengan selamat.”
”Semakin hati tertuju kepada Tuhan, semakin keberanian mengalahkan ketakutan, pengharapan melampaui kecemasan, dan kasih mengatasi kepentingan diri sendiri.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kecukupan Ada dalam Hati yang Percaya
”Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi Ia selalu hadir di tengah badai, mengulurkan tangan-Nya, dan menuntun setiap orang yang percaya sampai tiba dengan selamat di tujuan yang telah disediakan-Nya.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





